Kamis, Agustus 02, 2012

nggak ada ikhtiar yang sia-sia


Separuh ramadhan tinggal bareng keluarga beloved.  Bareng mertua, adek ipar, keponakan...
Tapi akhirnya pada hari ini saya sampai pada titik sepi, berasa nggak punya apa-apa.  
masih hanya bisa bareng beloved ketika saya hanya libur bekerja.  masih pengen dan pengen menjadi istri yang selalu ada di sampingnya.
apalgi ketika kemarin beloved sedang dalam kondisi yang nggak bagus dan saya nggak bisa apa-apa.
kondisi yang saaaaangat menyebalkan.

Allah maaf jika saya terdengar mengeluh

jadi sepagian tadi saya nggak bisa tidur.  ada energi besar untuk marah, kesal, benci sama dunia yang begitu baik pada sebagian tapi tidak pada yang lain.  masih tidak suka ketika mengingat kata mereka.  masih .............  dalam kesadaran bahwa saya telah meminta Allah untuk memberi saya kesabaran.  dan saya harus belajar untuk sabar.  harus membiasakan diri untuk sabar.  membiasakan diri untuk kebaikan yang lain.  energi itu terlalu besar untuk sekedar tidur.  bahkan saya sempat membenci tidur.  lalu sepagian tadi akirnya saya beresin cucian kami yang belum disetrika dan rapi-rapi kamar yang sebenernya jauh dari berantakan.

pagi ini ada seorang yang dulu saya suka banget melihat wajahnya telah berpulang ke rahmatullah.
ia pak cip kepala ruang interne.  usianya masih muda banget.  awal empat puluh mungkin.
seperti yang bu nora bilang kemaren, kehendak Allah atas manusia itu nggak ada yang tau.  maka dari itu selagi muda dan sempat maka berjuanglah dengan seluruh kemampuan untuk mendapatkan yang terbaik.
saya bisa saja mengambil keputusan untuk resign dan bersama beloved terus disana.  logisnya cinta, logisnya kesederhanaan, tapi nggak logis jika memaksakan diri.  menyiakan ilmu dan kebisaan saya untuk urusan disini yang kemudian ditukar dengan satu dua dirham, yang bisa saya tabung buat ikhtiar kami yang lain sementara saya makan dari nafkah yang suami beri.  satu dua dirham yang bisa saya simpan untuk keperluan tidak pasti kelak.. mungkin satu diantara kami dalam keadaan darurat dan memerlukannya.

dari semua itu ... semua rasa enggak enak yang saya rasa sekarang... saya percaya bahwa nggak ada ikhtiar yang sia-sia meski pada akhirnya kecewa karena gagal, kecewa karena tak berhasil mencapai tujuan ikhtiar.  rasa nggak enak ini (termasuk di dalamnya kecewa, sedih, marah, benci) mungkin seperti tetes air hujan yang kelak akan mengalahkan kerasnya hati, bekunya jiwa, membuka lorong baru untuk lebiiihhh menerima cahaya cintaNya.  menerima kebaikan, memberi kebaikan.

katanya, manusia hidup itu punya tujuan yang sudah tersebut dalam kitab Allah: beribadah.
ibadah yang sempat saya maknai dengan sempit: sholat, puasa, zakat,
lalu seiring waktu saya mulai memaknaiknya dengan semacam kebaikan.  setiap kebaikan adalah ibadah.
maka tujuan hidup ini sebenernya adalah menjadi pribadi yang baik yang bisa memberikan kebaikan bagi sekelilingnya.

itu.


 

Tidak ada komentar: