Minggu, Juni 28, 2020

Perawatan : Body and Soul

Umur sudah semakin menua gaes. Bulan depan ulang tahun yang kesekian. Semoga Allah memberiku umur yang dibarengi kesehatan dan keberkahan. Amin.

Sementara teman teman sudah naik kelas mencari cara untuk merawat chubby tummy nya, saya masih seperti remaja. Hahaha. Memperjuangkan diri dari serangan jerawat bandel. Wkwkwkw.
Buat siapa sih sebenernya perawatan itu? Buat suami? Hmm.. Kalau dipikir lebih jauh, karena sebenernya suami tersayang menerima apa adanya, sebetulnya perawatan itu lebih kepada kepentingan atau kebutuhan diri sendiri sih.
Karena lihat wajah kusam di cermin sungguh cukup merusak suasana hati. Gara gara apa? Gara gara membandingkan dengan wajah di drakor yang halus mulus gaaeeeeess.... Salahe sopo??
Alhamdulillah saya dapat kesempatan mudik sehingga bisa facial di klinik deket rumah orang tua saya. Klinik kecantikan yang bersiiiiiihhhh banget facialnya (baca: mampu menggali jejak-jejal jerawat sampai habis) tapi tetap dengan harga yang menurut saya terjangkau. Lebih murah dibandingkan facial setara (yg bersihnya seperti itu) di tempat tinggal saya sekarang. Seminggu setelah facial itu, mengalami rejuvenating alias peremajaan kulit dalam bentuk pengelupasan yg halus... Seminggu itu pun dilalui dengan keragu raguan: gakpapa tah aku? Kok masih kusem beud plus mengelupas gini
.. Hmm.. Sabar.. Setelah masa itu ternyata walau gak semulus warga korea di drakor, tapi kulit wajah yg cerah nyata adanya. Memandang diri di cermin pun bahagia. Hahaha.

Another perawatan adalah memulihkan badan pasca operasi laparoskopi. Iya badan gakpapa, saya pikir pemulihan yang cepat ini karena saya gak pakai bepejees (sehingga saya berprasangka bahwa dokter memberi saya obat yang cespleng), namun teori lain berkata bahwa bisa jadi para operator dan dokter di kamar opererasi sudah sangat berpengalaman sehingga hasil operasinya sangat baik. Wallahua'lam. 
Keluhannya hanya ada di bagian bekas infus. Lengan saya sampai kehijauan. Sakiiiidddd kalau dipegang. Mulanya saya cuekin, berharap seminggu udah beres sendiri. Ternyata malah tambah kerasa. Teman menyarankan untuk kompres hangat, dokterpun menyarankan begitu. Kompres dengan air hangat tidak cukup meresap sampai titik nyeri.. Bila menambah suhunya maka kulit saya yang akan terbakar. Jadi saya mengompresnya dengan uap panas nasi.. Hihihi. Dan dalam beberapa hari sudah hilang rasa nyerinya. Alhamdulillah. 
Sekarang ganti fokus perawatan: kepada luka bekas operasi. Akan teratur merawatnya dengan krim bekas luka. Semoga tidak meninggalkan bekas yang mengganggu. Amin.

Satu lagi, perawatan jiwa. Oh iya, kalau dipaksa ternyata saya bisa menyelesaikan sekian juz dalam satu minggu! Next akan memaksa diri untuk puasa sunnah (setelah melunasi hutang puasa dulu). Khusus jiwa memang butuh dipaksa, karena kalau nggak maksa nggak jalan juga nih. Jiwa rebahan sudah terlatih. Wkwkwk.
Kemarin qodarullah dapat give away kelas dr. Arif: Be Happy Now! 
Kenapa? Apakah saya tidak bahagia?
Bukaaann... Saya in sya allah bahagia, hanya saja saya butuh berusaha untuk berdamai dengan perasaan kehilangan itu... Mungkin tidak serta merta saya tidak sedih lagi saat mengenang adek, tapi saya yakin suatu hari saya akan bahagia mengenangnya. Saya hanya butuh berusaha.. Nanti Allah jualah yang mengijinkan rasa damai itu hadir.
Betulkan?

Begitulah
Maka setiap perawatan jiwa raga itu sejatinya untuk kepentingan diri sendiri. Yang juga akan menjadi baik jika membawa kebaikan untuk orang lain (yang terdampak atas kebahagiaan kita karena kita terawat dengan baik), dan kebaikan itu jua pasti akan kembali pada kita.
Jadi, teruslah merawat diri, jiwa dan raga.
Semangat!!!!

Minggu, Juni 14, 2020

New Normal

Hectic
Sedang amsyong banget terjebak dalam dunia pandemi, yang walaupun tidak bersentuhan langsung dengan pasiennya, mengurus sedikit tetek bengek administrasi tentang iku sungguhlah menyita tenaga dan pikiran.
Lalu aku bersyukur, Allah mengirim jeda itu.
Dimudahkan dalam berproses didampingi dokter dan tenaga kesehatan andalan, dilanjutkan dengan cuti recovery hampir dua minggu lamanya. 
Allahuakbar...

Recovery Time
Memanfaatkannya sebaik mungkin untuk bermalas malasan selagi mampu. Rebahan. Makan yang lahap. Semuanya untuk vitalitas menyongsong new normal, tatanan kehidupan normalku yang baru.

New Normal Life of Mine
Hari hari ini, walau secara fisik dekat dengan orang tua, nyatanya rasanya juga tidak kuasa berbuat banyak untuk menjaga mereka. Allah, iya hanya Allah sesungguhnya yang bisa menjaga mereka dengan sebaik-baiknya, jiwa dan raga. Jadi mau sombong apa? Meski kelak bisa sering mudik dalam pandemi yang udah mulai diajak bersahabat, sejauh apa kami bisa mendamaikan jiwa dan raga mereka?

Maka new normal yang ada dalam pikiranku adalah mulai kembali untuk mendekatkan diri pada Allah, agar Ia menjagaku, keluargaku, dalam keimananan, kesyukuran, dan keberkahan sisa umur.

Mari bersiap untuk tatahidup normal yang baru
Protokol kehidupan baruku terinspirasi oleh postingan Greenism nih:
- bangun sholat tahajjud
- mandi sebelum subuh
- sholat dhuha
- membaca quran
- banyak bersyukur, istigfar, memaafkan

Bismillah