Selasa, September 16, 2014

Cappucino Cincau. Biar kacau tetep rasa cappucinno

Tanpa bermaksud demikian, ternyata apa yg dikatakan-diperbuat seseorang (saya) dapat mengacaukan suasanya (melukai hati, menimbulkan keributan) :D

Bermaksud bilang pada dunia, tentang betapa sesungguhnya kurban tidak mahal (dibanding rejeki yg Allah kasih ke kita) (bila ia memang diniatkan, dipersiapkan jauh jauh dg menabung)
Namun... Alhamdulillah tidak semua orang ternyata merasa sekaya kami (bersyukur kami bisa merasa sekaya ini walau tampilan tak sebonafid beliau2, pun kepemilikan tak seeksis beliau2). Beliau2 tetap bersikukuh bahwa nilai kurban tak terjangkau karena meski beliau-beliau punya harta sebanyak itu, namun harta itu sudah dipersiapkn utk pos pos yg lain.
Mungkin kami (tampak) terlalu sombong dengan terlalu meringankan ini? Atau terlalu sok kaya?? Padahal punya apa sihhh kami ini?? Nothing (rumah masih pada ngontrak, motor stnknya atas nama orang, utang di bank pun banyak) :D miskin banget kan kami. Hihihihihi
Alhamdulillah kami punya Allah yg Maha Kaya itu otomatis bikin kami sudah sangat kaya.
Duh! Harussss belajar lagi bagaimana berkata dg santun.

Bagaimana pula menjalani kehidupan abdi negara ini ya?
Ketika banyak prosedur operasional dilanggar, namun dilaporkan semacam tidak dilanggar. Karena jika mengikuti prosedur sama sekali tidak praktis. Ah.
Saya bingung. Ketika menjadi banyak yg 'marah-marah' waktu saya mencoba di jalan yg sepertinya benar, bukan jalan tradisi.
Dan juga bingung ketika nggak ada jalan, nggak ada tradisi, lalu saya melakukannya saja, ternyata juga salah maneng. Hahahaha.

Sekolah kehidupan
Babak belur.
Jika saya murka, babak belur ini jadi sia-sia.
Maka..... Tarik nafas..... Bersyukur....
Bersyukur memiliki Beloved sang penyejuk jiwa,
Bersyukur 

Tidak ada komentar: