Selasa, Maret 17, 2026

Ubur-Ubur Baik Hati

Orang dewasa, saat nggak bisa kontrol emosinya, bagiku sangat terasa kekanak-kanakan.
Dan begitulah layer-layer energi negatif yang tertahan-tahan itu... aku mengendalikannya sebagian tapi tidak di sebagian yang lain... aku memilih to release them out. Aku seperti monster gurita, atau godzilla yang keluar dari lautan dalam. Membayangkannya, seram.

Lalu bayangkan... tetiba seekor ubur-ubur kecil menghampiri raksasa yang sedang tidak baik-baik saja ini. Alih-alih takut, ia menepuk-nepuk pelan, berusaha meraih dan menghapus air mataku. Astagaaaa... terharu. 

Terimakasih malaikat kecil,
Untuk berani meraihku,
Untuk membuatku merasa tidak sendirian,
Untuk meyakinkanku bahwa kamu ada di sisiku,
Untuk empati, kehangatan hati yang mungkin tak kumiliki sedalam itu.

Semoga harimu selalu baik,
Semoga cita-cita baikmu selalu mendapat keridhoan Allah—jalan mewujudkannya akan selalu lapang bagimu,
Semoga saat kamu akan tersesat, Tuhan selalu tunjukkanmu jalan pulang dengan ramah,
Semoga kelak kamu umroh tiap tahun,
Semoga istrimu cantik dan membahagiakan,
Semoga kalian saling setia, saling membahagiakan,
Semoga anak-anakmu banyak, keren, menjadi manusia-manusia yg bermanfaat dan membahagiakan,
Semoga pendidikanmu lancar, beasiswa antri di belakangmu
Semoga kamu nggak pernah sakit gigi,
Semoga kamu sekeluarga panjang umur dan warisan budimu akan dikenang sepanjang masa,
Semoga kamu makmur, sejahtera, kaya raya, rendah hati,
Semoga karirmu cemerlang, dan kamu low profile,
Semoga umurmu panjang dan berkah,
Semoga kawanmu banyak, relasimu baik, fan nggak ada yang jahat sama kamu,
Semoga kamu selalu disayang Allah.

Amin.

:)

Doa dari emak untuk anak kesayangan. 
Bunch love for you, Son 💖

Selasa, Maret 10, 2026

Memories Bring Back You

Seseorang mengatakan hal buruk lagi tentangku, bukan orang asing, bukan orang lain—ya, dia yang tak bisa kusebut nama dan kedudukannya. Dari kalimat yang dirangkainya, ia sampaikan bahwa aku sangat buruk sampai-sampai bapak tak menginginkan menghabiskan sisa hidupnya bersamaku.

Pertama, aku menjadi semakin yakin, betapa kurang ajarnya dia. Berani menyampaikan hal-hal semacam itu padaku, anak bapak. Apalagi dengan kedudukannya, tak seharusnya ia mengatakan hal-hal semacam itu.

Kedua, aku menjadi sanksi atas kenanganku tentang bapak. Apakah benar bapak menilaiku seperti dia menilaiku? Bagaimana bila iya? Namun, bila benar, mengapa kenanganku tentang bapak sama sekali tak menunjukkan tentang itu?

Ketiga, aku memilih untuk percaya pada ingatanku, pada  kenangan yang aku saksikan dan rasakan sendiri. Lalu, hari ini aku membuka lagi blog, membaca tulisan-tulisan terbaruku yang beberapa bahkan masih bercerita tentang bapak—yang membuatku semakin yakin pada keputusanku sendiri.

:)