Jumat, Januari 16, 2026

Cerita tentang Bapak

Pada suatu hari...
Aku mengalami perjalanan dengan jarak yang tipis antara hidup atau mati.

Malam itu, mungkin hampir dini hari, ayahku mengemudikan carry merah kesayangannya di tempat yang sama sekali tidak familiar. Kami hendak berkunjung ke rumah kerabat di luar kota. Tidak ada GPS, orang tuaku hanya mengandalkan perkiraan dan keyakinan. 

Di gelap malam, kami berbelok ke suatu jalan menurun... yang ternyata... sama sekali bukan jalan! Sedikit lagi di bawah sana adalah sungai Brantas. Sungai terpanjang di Jawa Timur.

"Tidak apa-apa... tidak apa-apa,"
Ayahku menggumam bagai merapal mantra yang tidak berhasil membuat lutut ibuku berhenti bergetar. Kami semua turun. Pamanku memandu ayah untuk perlahan membawa mobilnya merangkak naik.

Jalan sudah datar.
Aku masih mentertawakan lutut ibuku.
Bertahun-tahun kemudian, setelah berulang mendegar cerita itu – setidaknya setahun sekali saat mudik lebaran, aku baru sadar betapa dekatnya kami dengan maut yang kemungkinan akan menjadi berita viral di koran.

Lalu akupun mengerti, panjang pendeknya nyawa kadang bukan hanya soal takdir, tetapi juga tentang eksekusi yang tenang dari kendali emosi di saat-saat yang paling genting.

Eksekusi Tenang Sang Anak Bapak

Ada hal-hal yang tidak nyaman namun aku sangat bangga pada keputusan-keputusan kecil pengendalian diriku. Oh yeah.

Dimulai dari beberapa waktu lalu, saat aku cukup jengkel ketika kegiatanku membaca the holy one dikritisi, akan lebih benar jika aku membaca ayat-ayat tertentu untuk kepersembahkan sebagai bakti seorang anak pada orang tuanya yang telah tiada. What the h*ll ya... masyaallah... ingin sekali mengumpat. Padahal mudah saja seharusnya memberi apresiasi bahwa aku masih hobi mengaji. Aku melanjutkan membaca dengan emosi yang tercampur aduk. Kuputuskan berhenti. Kemudian diam-diam melanjutkan dengan tenang hingga tuntas sesuai target hari itu. Dan... aku bangga pada diriku sendiri. Selamat, ya!!!

Then... besok pagi-paginya saat aku jajan sarapan, sesungguhnya aku tergiur aneka macam jerohan goreng yang tampaknya enak. Lalu dengan penuh kesadaran aku memilih pepes tongkol. Kereeeeeeennnnn!!!!

Prestasi selanjutnya masih banyak niiihhh...

Lagi-lagi hatiku kemrungsung atas komentar orang. Tentang perjalananku. Tentang tempat singgah yang kupilih.
Namun, aku memutuskan untuk mengapresiasi keputusanku, menikmati setiap konsekuensinya.
Untuk itu... aku bangga.
Aku anak bapak. Forever. 
Kusadari, menjadi anak bapak itu ya mesti meneruskan warisan bapak. More than rapalan doa-doa... ini tentang melanjutkan ilmu ajaran bapak, yang mudah-mudahan menjadi amal jariyah baginya : tetap tenang dan kendalikan diri.