Senin, Agustus 17, 2026

Being Mentally Healthy

Pencapaian besar di umur 40 tahunku ini ialah proses penerimaan terhadap diri sendiri. Bukannya tidak bangga pada diri di episod-episod sebelumnya, namun memang kemarin-kemarin tu sepertinya hanya bersedia menerima hal positif, sedangkan hal negatif (hal yang membuat diri enggak nyaman) cenderung aku abaikan.

Ketika berbuat 'baik' untuk orang lain mulai melelahkan, mungkin saja itu karena i just pretending to be nice. Bukan dalam rangka menipu orang ya.. Cuma kayak gak terima aja dengan hal-hal tak baik yg dirasakan. Misal nih aku kok merasa temanku annoying banget ya. Ih masak iya ke teman aku merasa gini. Lalu aku berusaha memaklum-maklumi temanku sambil memadam-madamkan api sebalku. Padahal gak papa dong aku mikir jelek tentang teman. Namanya juga aku manusia. Apalagi saat share ke teman lain eehh ternyata perasaanku valid, teman yang lain juga merasakan ketidaknyamanan atas sikap teman yang sama.

Lalu kebetulan, di saat Indonesia tengah merayakah kemerdekaan, aku mendapat serangan yang sungguh dar der dor. Sangat membuatku marah, tak habis pikir, sedih banget. But, alhamdulillah I could control my respons. Bagiku, merdeka adalah saat aku merasa aman. Bukan harus selalu di zona nyaman. Namun saat di zona nggak nyaman aku bisa membuat diriku merasa oke, aku baik-baik saja, aku akan bisa melaluinya.

Bunch of love buat my besties, one of my biggest support system, yang mengerti aku, memahami, menghargai keputusanku. Dukungan kalian membuatku tegak berdiri sampai hari ini. 

Jumat, Juli 31, 2026

Solo


"Oh? Jadi mbak yang jahat?! Ternyata ya!" Komentar teman sesaat setelah menamatkan sebuah cerpen di buku ini.

"Aku sudah baca bukunya. Aku suka banget cerita yang tentang bla bla tuh..." kata seorang teman baru yang kukenal di festival

Katanya, kalau mau bisa hidup dari royalti buku, minimal bisa jual 10.000 buku dalam setahun. Banyak banget ya! 

Jika royalti sebuah buku 8k (ini udah banyak sih), jual 7500 buku bisa cover biaya hidup setahun yang minimalis sebesar 60 juta. Pilihannya bisa nulis 75 buku dengan 100 penjualan per tahun. 

Nggak tahu ya apakah aku kelak bisa sampai di situ. Mari kita coba!!

Tapi yang paling penting, aku suka bukuku mendapat respon baik dari pembacanya. Makasih banyak yaaa siapapun kamu yang sudah baca. Dan yang belum, kalian bisa dapat buku aku di shopee maupun Google Play Book. Judulnya Mind Sanitizer by Rahmaline.

Cover bukunya aku kolaborasi dengan Jasa Desain Bagus. Best!!



Sweet 40

Super duper unpredictable lah umur 40 ini!
Welcome, ya!!

One of most keren moment is I am invited to present as a book writer in Festival Literasi di kotaku, right on my birthday. Surprisingly meski aku hanya kenal seorang disana, my Editor, tapi aku tidak merasa terasing. Aku mendapat sebuah buku sebagai hadiah, dan I buy another one: Montessori Child, buku yang sedang relate dengan mommy's problem.

Namun, ada hari lain saat aku nggak sendirian, ada orang-orang yang kukenal, aku merasa sendirian. Sendirian yang sepi banget sampe nangis. Huhu. Untungnya Allah sayang aku. Di kepalaku dibisikkanNya suatu kesadaran. Aku sebagai anak, istri, ibu, pekerja, penulis, dan lain-lain adalah peran-peran tambahan. Peran utamaku cuma 1: Hambanya Tuhan.

Hamba Tuhan ini pun mewek. Ketika berat dengan beban peran-peran kecil, kesadaran tentang peran utama ini membuat pikiran lebih tenang. Semacam, ah.. okey, ada Allah yang insya Allah bisa back up. Semoga aku selalu dekat dengan majikanku ya... ialah Allah. Amin.

Minggu, Juli 05, 2026

New Skills Unlocked

Halo July! This month I will be 40 yo insya allah. Today I officially still 39 yo. Alhamdulillah di umur ini aku udah ongoing unlock beberapa hal berguna untuk hidupku:
1. Nyetir
2. Nulis
3. Speaking
4. Hari ini insya allah aku les perdana berenang.

3 tahun ke depan (40, 41, 42) fokusnya mengasah skill itu agar lebih berkembang dan tajam. 

Bisa mengemudikan mobil lebih tenang, aman, jauh. Bisa menulis sesuatu dengan lebih rapi, tajam, dan dapat feelnya. Bisa cap cip cup lebih lancar. Dan khusus olahraga mudah-mudahan aku istiqomah menjaga raga ini agar tetep bugar sampai akhir hayat. Amin.

Ada satu lagi yang ingin aku unlock: tahsin.

Jumat, Juni 05, 2026

Birthday Gift

Tahun ini aku akan berusia 40 tahun, insya Allah. Aku sudah menyiapkan hadiah untuk diriku sendiri. Sebuah buku solo yang keren.

Sepuluh tahun lagi aku akan 50 tahun, insya Allah.
Di hari arafah yang lalu, aku berdoa semoga aku bisa ikut Haji Khusus. Niatku kujangkar dengan membuka tabungan valas USD 100.
Kelak saat aku 50 tahun, mudah-mudah USD 100 nya sudah jadi USD 36.000 minimal. Biar bisa Haji Khusus sekeluarga (my beloved son, husband, and I)

Bismillah

Selasa, Juni 02, 2026

Hoarding Gate Unavailable

Ada hal-hal yang bagiku seperti piala. Ialah sepatu-sepatu mahalku. 

Ada sepatu pertama, biru warnanya, menemani pejuangan-perjuanganku saat workvelling sendirian. Solnya sudah tipis, warnanya sudah pudar, bahkan almarhum adikku pernah membelikanku cat kanvas untuk membuatnya kembali bersinar. Sudah tua banget, kan! Adikku aja sudah berpulang lima tahun lalu! Tapi sepatu itu, masih kusimpan dalam boksnya meski sudah bertahun-tahun tak lagi kupakai.

Sepatu kedua, juga memorable. Ia saksi saat salah satu momen keren di hidupku: nonton Manchester United di tribun paling belakang di National Stadium Singapore. Wkwkwk. Sesuatu yang kelak harus kurevisi. Nonton di bangku paling depan biar aku bisa lihat wajah ganteng para pemainnya. Ya, dan seperti pendahulunya, sepatu ini sudah tidak layak pakai. Ia cantik, masih cantik, tapi sudah terlepas solnya. Aku masih mengupayakan akan menyatukan mereka kembali.

Aku beli lem khusus sepatu. Aku mencucinya. Aku akan memperbaikinya. Tapi aku pasti tak akan memakainya karena pasti tidak senyaman versi pabrik. Aku tahu itu. 

Saat aku memandang sepatu itu tergantung-gantung di tali jemuran, aku baru sadar bahwa aku sedang membuka gerbang hoarding di hidupku. Oh tydaacckk!! Aku tak boleh melakukannya!!

Tamatlah sudah alkisah kami
Terima kasih dan jumpa lagi

Akhirnya kemarin, dengan kesadaran penuh, aku memutuskan berpisah dengan mereka.

Sabtu, April 25, 2026

Selamat Hari Kartini

Pencapaianku bulan ini: setor 40 naskah cerpen ke editor!! Yeyyyy!! Selamat, ya, akuuuuu!!!

Serunya, bulan ini aku juga ambil kelas berbayar untuk menulis cerita pendek. Ada sesi-sesi saat kami boleh sharing cerpen yang sudah pernah kami tulis dan dijadikan bahan tugas untuk dianalisa peserta lain. Aku membagikan tulisan saat awal banget belajar nulis, salah satu tulisan yang cukup keren menurutku. Dan ketika dianalisa oleh teman, waduuuhhh kelihatan compang camping gaiiisssss...

Rasanya jadi campur aduk. Tertampar, sakit juga sih, tapi lebih seperti nyeri otot pasca ngegym. Itu tulisanku for about enam bulan lalu. Dan tulisanku belakangan, setelah diasah melalui puluhan cerita pendek yang kutulis, insya allah sudah lebih baik. Aku sangat bersyukur aku sudah bertumbuh. Aku bersyukur bisa menerima kritisi itu dengan jiwa besar. Aku bersyukur ada yang melakukannya. Aku bersyukur kritisi itu keluar sekarang, saat kapasitasku sudah bertambah. Aku bersyukur, dulu saat menulisnya, aku hanya mendapat apresiasi. 

Terima kasih orang-orang baik di sekelilingku.

Senin, April 13, 2026

Home Visit

The best part of lebaran tahun ini adalah... alhamdulillahhhh... kesampaian berkunjung ke teman-temanku di kota pisang!! ini adalah cita-cita dua tahun belakangan, sih... dan yang paling menyenangkan bahwa beloved bersedia mengantarku ke setiap pintu yang kukunjungi.

  1. Rumah Retno
    Dia adalah salah seorang yang penting di sejarah masa lalu. Pernah jualan barang bertiga, dan she always be the best marketer ever. Kalau jualan selalu laris manis gitu deh. Bahkan sampai sekarang sepertinya masih begitu. Senang akhirnya dia bisa mewujudkan rumah impiannya. Rumah yang imut, cantik, estetik.

  2. Rumah Kak Vita
    Orang cantik yang paling baik yang kukenal. Beberapa kali sambang rumah bondowoso jadi... kayak ada utang banget harus menjejakkan kaki di rumahnya. Alhamdulillah, sudah terealisasi. Senang melihat vita-vita sachet sudah tumbuh gede, senang dengan kehangatan keluarga mereka. Bertemu dengannya menghangatkan hatiku

  3. Rumah Bu Nora
    Masih seperti rumah yang dulu, dan beliau alhamdulillah kelihatan sehat dan siap mantu. mendapat sudut pandang ibu yang baik dari beliau, memberi jalan tapi tetep menyerahkan keputusan pada yang akan menjalankan hidup. 

  4. Rumah Kak Desya
    Best home lah ini yaaaa... di lahan yang imut tapi bisa punya kolam renang!! Meski nggak bisa lihat kolamnya cuz itu berisiko membuat anakku tantrum nggak bisa diajak pulang. Ini seperti rumah yang biasanya cuma dilihat di konten-konten influencer. Wkwkwk. Dan senang kami masih bisa bercerita apapun seperti dulu, tanpa canggung... meski sudah lama nggak ketemu.

  5. Rumah Dibo
    Rumah terakhir yang kami singgahi. Salah satu teman kerja terlama juga, dan darinya aku banyak belajar tentang self love: treat ourself sebaik-baiknya, dari milih yang dimakan, yang dipakai, bahkan keistiqomahannya berolahraga... 

  6. Rumah Ria
    Tidak bertemu tapiii dapat oleh-oleh segambreng. Terharu akutuuuu... Senang dengan usahanya yang menggurita: parcel, f&b, skincare... Padahal udah bisa banget dia santuy-santuy menikmati hidup tanpa kerja keras (pov aku yang sok tau)
Belum semua yang kuinginkan sudah kusinggahi. Mudah-mudahan juga bisa main ke kota lain dan menyambangi teman baikku dimanapun kalian berada. Sebut: Jember, ambulu, balikpapan, ponorogo. Ini dulu deh.

Selasa, Maret 17, 2026

Ubur-Ubur Baik Hati

Orang dewasa, saat nggak bisa kontrol emosinya, bagiku sangat terasa kekanak-kanakan.
Dan begitulah layer-layer energi negatif yang tertahan-tahan itu... aku mengendalikannya sebagian tapi tidak di sebagian yang lain... aku memilih to release them out. Aku seperti monster gurita, atau godzilla yang keluar dari lautan dalam. Membayangkannya, seram.

Lalu bayangkan... tetiba seekor ubur-ubur kecil menghampiri raksasa yang sedang tidak baik-baik saja ini. Alih-alih takut, ia menepuk-nepuk pelan, berusaha meraih dan menghapus air mataku. Astagaaaa... terharu. 

Terimakasih malaikat kecil,
Untuk berani meraihku,
Untuk membuatku merasa tidak sendirian,
Untuk meyakinkanku bahwa kamu ada di sisiku,
Untuk empati, kehangatan hati yang mungkin tak kumiliki sedalam itu.

Semoga harimu selalu baik,
Semoga cita-cita baikmu selalu mendapat keridhoan Allah—jalan mewujudkannya akan selalu lapang bagimu,
Semoga saat kamu akan tersesat, Tuhan selalu tunjukkanmu jalan pulang dengan ramah,
Semoga kelak kamu umroh tiap tahun,
Semoga istrimu cantik dan membahagiakan,
Semoga kalian saling setia, saling membahagiakan,
Semoga anak-anakmu banyak, keren, menjadi manusia-manusia yg bermanfaat dan membahagiakan,
Semoga pendidikanmu lancar, beasiswa antri di belakangmu
Semoga kamu nggak pernah sakit gigi,
Semoga kamu sekeluarga panjang umur dan warisan budimu akan dikenang sepanjang masa,
Semoga kamu makmur, sejahtera, kaya raya, rendah hati,
Semoga karirmu cemerlang, dan kamu low profile,
Semoga umurmu panjang dan berkah,
Semoga kawanmu banyak, relasimu baik, fan nggak ada yang jahat sama kamu,
Semoga kamu selalu disayang Allah.

Amin.

:)

Doa dari emak untuk anak kesayangan. 
Bunch love for you, Son 💖

Selasa, Maret 10, 2026

Memories Bring Back You

Seseorang mengatakan hal buruk lagi tentangku, bukan orang asing, bukan orang lain—ya, dia yang tak bisa kusebut nama dan kedudukannya. Dari kalimat yang dirangkainya, ia sampaikan bahwa aku sangat buruk sampai-sampai bapak tak menginginkan menghabiskan sisa hidupnya bersamaku.

Pertama, aku menjadi semakin yakin, betapa kurang ajarnya dia. Berani menyampaikan hal-hal semacam itu padaku, anak bapak. Apalagi dengan kedudukannya, tak seharusnya ia mengatakan hal-hal semacam itu.

Kedua, aku menjadi sanksi atas kenanganku tentang bapak. Apakah benar bapak menilaiku seperti dia menilaiku? Bagaimana bila iya? Namun, bila benar, mengapa kenanganku tentang bapak sama sekali tak menunjukkan tentang itu?

Ketiga, aku memilih untuk percaya pada ingatanku, pada  kenangan yang aku saksikan dan rasakan sendiri. Lalu, hari ini aku membuka lagi blog, membaca tulisan-tulisan terbaruku yang beberapa bahkan masih bercerita tentang bapak—yang membuatku semakin yakin pada keputusanku sendiri.

:)


Senin, Januari 19, 2026

Tidak Jadi Menyesal

Kadang-kadang aku menyesal telah menyesali sesuatu. 

Kemarin aku sempat menyesal mengapa aku tidak mengambil kamar yang lebih mahal, sebab kamar hotel yang kupilih ternyata tidak sesuai ekspektasi. Suram. Menu sarapan sangat terbatas. Hm.. Rasa tidak nyaman itu sempat membuatku berpikir, seandainya tadi aku memilih yang lain. 

Namun aku pikir lagi, bukankah setiap keputusanku sudah kupikirkan matang-matang?  Kamar itu kupilih karena informasi spesifikasi yang tersedia, telah sesuai dengan kebutuhan juga anggaranku.  Foto dan kenyataan yang kurang sesuai nuansanya adalah di luar kuasaku.  Maka seharusnya aku tidak menyesal, bukan? Hanya butuh menggali informasi lebih banyak dan mengalokasikan anggaran lebih di kemudian hari bila butuh tempat singgah yang sesuai standar kenyamananku.

Sekarang aku ingin ketawa, sebab ternyata ekspektasiku itu kudasarkan pula pada pengalaman yang kukira baru kemarin di hotel yang sama, namun ternyata sudah dua belas tahun silam. Hahahaha. Ya, ingatan saat aku masih seorang karyawan baru yang sangat exciting menerima fasilitas negara -- yang lebih nyaman, jauh lebih nyaman, dari tempat tinggalku saat itu (sepetak kamar kos).

Saat aku tidak berpartisipasi di suatu kegiatan, agak kepikiran juga, mengapa aku lebih memilih stay at home saat hujan, kan jadi nggak punya kenangan.  Tapi lagi-lagi aku kembali ke latar belakang keputusan tersebut.  Aku sedang menepi dari keramaian karena sunyi membuat energiku pulih.  Juga sedang memimalisir risiko masuk angin dan macam-macam penyakit yang bisa terpicu oleh dingin, khususnya pada anakku. Dan begitulah akhirnya, kami menghabiskan sisa malam tanpa kehidupan sosial yang ramai.

Benar, tidak salah. 
Keputusan -- selama tidak melanggar syariat (dih, tinggi banget bahasanya), aku pikir bukanlah keputusan yang salah.  Hanya saja, setiap keputusan pasti ada konsekuensi.  Ketika rasa tidak nyaman menjadi salah satu konsekuensinya, disitu aku sering merasa "wah, aku salah ambil keputusan, nih!". Padahal tidak semua ketidaknyamanan adalah tanda kesalahan.  

Aku rasional
Aku bertanggungjawab
Dan aku berlajar... 

Barangkali yang perlu kupelajari adalah berhenti terlalu cepat menghakimi diri sendiri. Membedakan antara salah memilih dan tidak menyukai hasil adalah kerja batin yang tidak selalu mudah, tetapi penting. Karena di sanalah aku belajar berdamai: menerima bahwa aku telah memilih dengan niat baik, di situasi terbaik yang kupahami saat itu.

Dan mungkin, itu sudah cukup.

Jumat, Januari 16, 2026

Cerita tentang Bapak

Pada suatu hari...
Aku mengalami perjalanan dengan jarak yang tipis antara hidup atau mati.

Malam itu, mungkin hampir dini hari, ayahku mengemudikan carry merah kesayangannya di tempat yang sama sekali tidak familiar. Kami hendak berkunjung ke rumah kerabat di luar kota. Tidak ada GPS, orang tuaku hanya mengandalkan perkiraan dan keyakinan. 

Di gelap malam, kami berbelok ke suatu jalan menurun... yang ternyata... sama sekali bukan jalan! Sedikit lagi di bawah sana adalah sungai Brantas. Sungai terpanjang di Jawa Timur.

"Tidak apa-apa... tidak apa-apa,"
Ayahku menggumam bagai merapal mantra yang tidak berhasil membuat lutut ibuku berhenti bergetar. Kami semua turun. Pamanku memandu ayah untuk perlahan membawa mobilnya merangkak naik.

Jalan sudah datar.
Aku masih mentertawakan lutut ibuku.
Bertahun-tahun kemudian, setelah berulang mendegar cerita itu – setidaknya setahun sekali saat mudik lebaran, aku baru sadar betapa dekatnya kami dengan maut yang kemungkinan akan menjadi berita viral di koran.

Lalu akupun mengerti, panjang pendeknya nyawa kadang bukan hanya soal takdir, tetapi juga tentang eksekusi yang tenang dari kendali emosi di saat-saat yang paling genting.

Eksekusi Tenang Sang Anak Bapak

Ada hal-hal yang tidak nyaman namun aku sangat bangga pada keputusan-keputusan kecil pengendalian diriku. Oh yeah.

Dimulai dari beberapa waktu lalu, saat aku cukup jengkel ketika kegiatanku membaca the holy one dikritisi, akan lebih benar jika aku membaca ayat-ayat tertentu untuk kepersembahkan sebagai bakti seorang anak pada orang tuanya yang telah tiada. What the h*ll ya... masyaallah... ingin sekali mengumpat. Padahal mudah saja seharusnya memberi apresiasi bahwa aku masih hobi mengaji. Aku melanjutkan membaca dengan emosi yang tercampur aduk. Kuputuskan berhenti. Kemudian diam-diam melanjutkan dengan tenang hingga tuntas sesuai target hari itu. Dan... aku bangga pada diriku sendiri. Selamat, ya!!!

Then... besok pagi-paginya saat aku jajan sarapan, sesungguhnya aku tergiur aneka macam jerohan goreng yang tampaknya enak. Lalu dengan penuh kesadaran aku memilih pepes tongkol. Kereeeeeeennnnn!!!!

Prestasi selanjutnya masih banyak niiihhh...

Lagi-lagi hatiku kemrungsung atas komentar orang. Tentang perjalananku. Tentang tempat singgah yang kupilih.
Namun, aku memutuskan untuk mengapresiasi keputusanku, menikmati setiap konsekuensinya.
Untuk itu... aku bangga.
Aku anak bapak. Forever. 
Kusadari, menjadi anak bapak itu ya mesti meneruskan warisan bapak. More than rapalan doa-doa... ini tentang melanjutkan ilmu ajaran bapak, yang mudah-mudahan menjadi amal jariyah baginya : tetap tenang dan kendalikan diri. 


Selasa, Desember 23, 2025

Ini Bukan Lagu Tulus, Tapi… Hati-Hati di Jalan

Di masa ini, adakah yang tidak memanfaatkan jalan raya? Rasanya hampir mustahil.  Kita berangkat kerja lewat jalan raya, anak sekolah lewat jalan raya.  Ambulans, truk sembako, ojol, bahkan bocil dengan sepeda listrik, semuanya bertemu di ruang yang sama : aspal.

Pembangunan infrastruktur jalan terus dilakukan.  Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat panjang jalan aspal di Indonesia tahun 2024 mencapai 377.454 km, bertambah 18,39% dibanding tahun 2023 yang hanya sepanjang 318.822 km.  BPS juga mencatat ada sebanyak 157.080.504 unit kendaraan bermotor (mobil, bus, truk, dan sepeda motor) yang lalu lalang di jalanan Indonesia di tahun 2023, di mana 24 juta kendaraan di antaranya merupakan kendaraan Jawa Timur.  Jumlah yang sangat luar biasa.  Jumlah kendaraan bermotor ini belum termasuk kendaraan listrik yang belakangan menjadi primadona.  Teknologi hadir semakin memanjakan pengguna. Adanya GPS (Global Positioning System), dash cam, sensor parkir, dan kehadiran motor listrik membuat berkendara semakin hari terasa semakin mudah.  

Masalahnya, jalan raya bukan cuma soal bisa menggerakkan kendaraan maju mundur cantik.  Jalan raya adalah ruang bersama, penuh aturan, etika, dan risiko. Sementara itu, pengguna jalan – yang telah memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM) pun, tidak sedikit yang ugal-ugalan di jalan.  Ugal-ugalannya kalem : tidak pakai helm saat jarak tempuh dekat, menerobos lalu lintas saat jalanan sepi, melawan arus sedikit, bonceng tiga biar seru. Tidak heran, data pada Pusiknas Polri menunjukkan 95% kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh kelalaian manusia, 5% lainnya disebabkan oleh kondisi kendaraan, jalan, dan alam (kabut, banjir, dll).

Dari mana kita bisa memahami aturan, etika, dan risiko lalu lintas?  Sesungguhnya saya pribadi juga bertanya-tanya.  Pendidikan berlalu lintas nyaris absen dari kurikulum formal.  Sebagian pengetahuan rambu-rambu lalu lintas merupakan ilmu yang saya dapat saat sekolah dasar.  Tidak ada kelas untuk menjadi pengguna jalan yang bertanggung jawab.  Pengetahuan hanya diwariskan dari generasi ke generasi, yang sayangnya, tidak utuh dan belum tentu benar.

Andai saja literasi berlalu lintas diperlakukan seperti literasi membaca dan berhitung.  Pendidikan keselamatan jalan raya bisa masuk ke kurikulum sekolah.  Bukan sekedar teori, tetapi praktik mengenal rambu sejak dini, memahami hak pejalan kaki, empati di jalan, dan simulasi sederhana berkendara yang aman.  Jika kurikulum terasa berat, ekstrakurikuler bisa jadi alternatif untuk mencetak pengguna jalan beradab.

Namun, meski kelak masuk kurikulum, sudah barang tentu saya tidak akan belain sekolah lagi.  Bagi saya yang sudah terlanjur hobi belok kiri jalan terus, RESET dimulai dengan berhenti menormalisasi pelanggaran kecil, sabar di jalan, dan membaca doa sebelum berkendara – agar selamat sampai di tujuan.


Jumat, November 21, 2025

Orang yang Ditandai

Beberapa waktu lalu dibuat sebal oleh Bu E, yang kukira hendak konfirmasi, malah berkata dengan nada tinggi.  Meski belakangan aku maklum, mungkin dia sedang moody karena tugas negara yang bejibun atau apalah, namun aku tetap menandainya.

Lalu aku mulai menandai seseteman yang, wah, sempat membuat pekerjaanku tertunda beberapa hari, pikiranku terkuras juga untuk mengerjakan hal yang seharusnya dia yang mikirin and ngerjain.  eh, kok aku dikerjain, ya? Tamarin banget kan.

Last but not least, ada bapack-bapack juga gais.  Yang kemarin bilang "(Sebut nama aku) gimana, disuruh bawa laptop tapi nggak tau laptop itu buat apa. Hh hh hh (ketawa nyebelin)".  Dari intonasinya aku merasa dikecilkan gitu lhooo.  Aku tak suka.  Aku merasa aku tidak salah saat aku membawa barang yang diminta bos ku untuk membawakannya tanpa bertanya lebih lanjut.  Toh yang diminta bawa barang kantor normal.  Bukan barang yang gak sesuai tema such as : duren, jerapah.

Tidak yaaa... aku tidak jahat menandai orang-orang itu.  Itu sebagai bentuk kewaspadaan saja agar saat berinteraksi dengan mereka aku senantiasa sadar dan berhati-hati.  Patuh pada batasan-batasan yang kusepakati dengan diriku sendiri.

Selamat ya, aku!! You do great, Lady!!

Rabu, November 05, 2025

Release

Aku mengalami sakit yang cukup serius beberapa waktu lalu, hingga terpaksa tidak masuk dinas selama dua hari, juga meninggalkan rutinitas ke pusat kebugaran selama sebulan.  Duh! aku mencoba berlatih sendiri di rumah, angkat beban, work out, namun memang lebih afdol bila aku pergi ke tempat gym dan berlatih bersama personal trainer.  Insya allah besok deh.

Dua hari berdiam di rumah ternyata, baru kusadari belakangan, membuatku cukup tertekan ya.  Semacam dekat dengan sumber kecemasan tanpa jeda.  Wah, jadinya setelah itu aku melalui hari-hari dengan penuh cemas.  Belum lagi tim kerja baru yang menurutku masih belum berjalan di jalur yang sesuai.  Masih belok kanan belok kiri, tidak efisien, dan sempat membuat agenda yang sudah kurencanakan berantakan.  Itu menjadi beban pikiran tersendiri bagiku.  

Untungnya Tuhan masih ijinkan aku bertemu dengan mereka, kawan-kawan baikku.  Dalam suatu sesi makan siang yang penuh cerita, setelahnya beban hidupku -- seperti biasa, sebagian hilang.  Hatiku plong sedikit.  Ada beban yang terangkat pergi.

Nasehat temanku, fokuslah pada diriku sendiri.  Ah, dan aku berusaha melakukannya.  Tidak terlalu mengurusi pekerjaan orang lain meski rekan satu tim bila pekerjaanku sendiri belum selesai.  Dan... senangnya ketika dua hari ini aku berhasil menyelesaikan target kerjaku dengan cukup baik.  Besok akan ku kerjakan lagi target yang satu.  Sambil berharap mudah-mudahan besok semesta mendukungku untuk berangkat latihan beban di pusat kebugaran lagi.  Semoga.

Rabu, September 24, 2025

Prides of The Week

Ada dua hal membanggakan minggu lalu: pertama, tentang servis mesin cuci; dan kedua tentang parkir mobil.  Bangga karena atas ijin Allah, emak-emak ini mampu membuat kontribusi yang gemilang.  Hahahahaha.

Tentang servis mesin cuci

Alkisah, mesin cuciku kembali bermasalah.  Kali ini di tetiba mati.  Kupikir mungkin ada jaringan listrik yang terganggu, namun aku juga tidak bisa memastikan karena aku tidak punya keahlian, maka aku panggil teknisi yang kukenal untuk membantu.  Sayang seribu sayang, dia tidak berhasil mendiagnosa masalah, menurutnya mesin cuciku baik-baik saja. Ah.

Aku mulai menyelidikan lebih dalam, mencari referensi sebagai pembanding hingga aku menyimpulkan bahwa modul mesin cuciku ada gangguan.  Kuihat di toko oren harganya lumayan, hampir 400 ribu untuk modul yang bukan original.  Hampir saja kucheck out, namun urung ketika ada reviu yang bilang bahwa modul di toko ini bisa membuat mesin bekerja namun sedikit berbeda dengan versi aslinya, disarankan menghubungi service center untuk hasil yang lebih optimal. 

Sekitar tiga hari setelah menghubungi service center official, teknisi datang.  Dalam laporan aku sudah menyampaikan dugaan kerusakan, oleh karenanya teknisi sudah siap dengan modul barunya.  Dan ketika dilakukan pemeriksaan, bere tuh modul yang bermasalah- wah!! merasa keren sangat diriku ini.  Emak-emak yang peka pada mesin.  Hihihi.  Dan kekerenanku ini dibayar sepadan : ternyata klaim gransi masih berlaku sehingga aku mendapat penggantian modul secara gratis!!!  Alhamdulillaaahh...  Oh iya, teknisi menyampaikan bahwa Polytron tidak menjual modul secara bebas, sehingga dipasaran mustahil akan ditemukan modul original.  Wah, beruntung sekali diriku.  Dengan data yang akurat bisa mendapat pengangan yang tepat, gratis pula.

Tentang Parkir Mobil


Adakah sesuatu yang istimewa dari gambar tersebut? Biasa aja? ah iya memang itu biasa saja, hanya mobil yang terparkir sempurna, lurus tidak keluar garis.  Namun bagiku itu sangat istimewa karena ... akulah yang ada di balik kemudi.  Hahahaha.  Setelah sudah punya surat ijin mengemudi mobil, aku masih belum punya cukup nyali untuk turun ke jalan saat  kondiri ramai.  Maka di hari libur yang tenang, aku turun ke jalan.  Selamat yaa pada diriku sendiri.  Semoga selalu dalam lindungan Allah.  Amiinnn

Sabtu, September 20, 2025

CHeeRs

Kemarin pembagian raport untuk salah satu tugas yang kukerjakan – Catatan Hasil Reviu a.k.a CHR atas dokumen perencanaan. Dan... izinkan aku berterimakasih pada diri sendiri karena isi raportnya baguuussss bangeettttt... cuma ada satu catatan perbaikan. Yihhu.

Ini jelang dua pagi. Aku belum mengambil jatah tidur malamku, sebab beberapa penghuni rumah sedang kurang sehat sehingga aku sedikit membantu mereka. Mudah-mudahan aku sehat selalu. Amin. Sekali lagi izinkan aku berterima kasih pada diri sendiri karena minggu ini aku tidak melewatkan agenda work out. Yeeeeeeyyyy.

Defaultnya, paling lambat hari kamis setiap pekan aku pergi ke pusat kebugaran. Namun hingga kamis kemarin jadwal kegiatanku sunggu padat menguras otak. Alhamdulillah hari jumat Allah kasih aku sempat serta niat, maka tengah hari akupun berangkat. Cuma 60 menit work out hari ini. Semoga istoqomah sampai jompo ya.

Oh iya, tadi aku menghadiri meeting, which is kami yang hadir di pertemuan tersebut ternyata akan ditugaskan ke medan perang!! Oh my God... ada-ada bae gebrakan para petinggi kantor nih. Kami anak belakang meja, mulai minggu depan dikirim untuk membantu pasien melakukan pendaftaran online via Mobile JKN. Semoga Allah mudahkan. 

Demikian laporan minggu ini.
Selamat tidur.
Jaga kesehatan.

Sabtu, Agustus 30, 2025

My Ikigai

Finally i found my ikigai : nulis.
Belajar nulis dengan pakar, membuatku jauh lebih bersemangat. Ternyata hal yang kusukai dari dulu, memang semenarik itu bila tau ilmunya.
Nulis aja dulu, baca buku dua biji sebulan (nanti deh aku manajemen lagi waktunya, butuh satu buku fiksi dan satu buku non fiksi. Bisa pinjem, nggak harus beli).

Agustus ini sedang dalam proses penerbitan buku perdanaku. Belum ISBN, masih QRBCN, namun sungguh itu membuatku lebih percaya diri. Suatu hari buku soloku akan menghias rak best seller di toko buku. Amin.

Terimakasih banyak untuk guru menulisku : kak Aisyah El Zahra

Selasa, Agustus 12, 2025

The Little Mada

Little Mada sedang sakit, diare dan demam.  Susah banget minum obat, satu-satunya obat yang bisa dia minum hanya obat batuk rasa stoberi.  

Yang aku salut padanya, dia semacam kuat dengan penderitan.  Menanggung semua sendiri, tanpa mengeluh, tanpa rewel.  Bikin Aku yang dewasa ini kasihan, sekaligus bersyukur, berterimakasih. Dan akhirnya aku merasakan hari dimana anakku seperti anak pada umumnya : nggak pecicilan.  Wkwkwkwk. 

Namun, jujur, mending anak sehat pecicilan meski dia kelihatan beda dari yang lain daripada anak kelihatan normal tapi sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.

Semoga sehat terus yaaaa