Cong & Khan Company
the brand new day
Sabtu, September 19, 2026
Pertukaran Pelajar
Senin, September 14, 2026
Surau
Next month my son will be 4 years old and we thought that it is the right time to send him learn how to perform salat and recite quran in nearest surau. So, this morning i asked his daddy to take care of that.
Alhamdulillah, senangnya bisa putar ulang memori. Dulu saat masih jadi anak bapak, every fase penting yang melibatkan penjagaan orang lain atas diriku, bapak menemui pihak-pihak terkait untuk menitipkanku, meski sebenernya aku bisa aja jalan sendiri dan orang-orang lain pun tak melakukan yang baoak lakukan (saat kost waktu kuliah, misalnya).
Happy birthday bapaknya anakku, wish you... bisa menjalankan peran sebaik-baiknya, apapun peranmu di muka bumi ini. Amin.
Sabtu, September 12, 2026
Buku Buku: Masquerade Hotel
Selasa, September 08, 2026
Facial
Beauty is pain, katanya. Aku sempat fokus pada pain-nya beberapa waktu ini. Ekstraksi komedo sangatlah sakit, peeling juga pedih, mau dilaser harus pakai anestesi dulu. Tiga tahun belakangan aku menjalani perawatan wajahku secara rutin untuk mengatasi jerawat-jerawatku dengan persiapan mental: SIAP MENDERITA! Hahaha.
Lalu kemudian, dengan segala kejadian dar der dor di hidupku belakangan, kok aku pingin banget duduk sebentar di klinik skin care itu ya. Aku datang dengan niat me time, bukan berobat. Ya, ekstraksi komedo masih terasa sakit. Tapi ternyata senang dipijat dengan halus, ternyata menyenangkan mencium aroma wangi tea tree di wajah, ternyata menyenangkan menyentuh wajah yang halus, ternyata menyenangkan saat diberi tahu nggak ada komedo di pipiku, tinggal bekas jerawatnya aja.
Okhay, ternyata berproses menjadi cantik itu... menyenangkan.
Rumahku Dulu
Tempat tinggalku, sampai aku awal sekolah dasar, adalah sepetak rumah semi permanen. Lantainya semen, separuh dindingnya anyaman bambu. Kamar mandinya bilik kecil dengan tirai kain, bukan pintu plastik, seng, apalagi kayu. Jambannya juga terhubung langsung dengan selokan terdekat, tanpa perantara septic tank. Rumah tetangga berdempet, hanya dibatasi lorong sempit yang bila orang dewasa berpapasan harus memiringkan badan. Tak ada halaman.
Di sana aku menghabiskan masa kecilku: bermain lumpur, mencetak tanah menjadi bentuk-bentuk lucu, menikmati banjir saat musim hujan, mencari harta karun di sungai, dan tetangga yang lebih senior sekolahnya tak jarang mengulurkan bantuan saat aku kesulitan mengerjakan PR dari sekolah, mereka juga mengajakku berburu batang tebu yang tercecer di tepi jalan. Seru!
Belum sejahtera, begitulah gambaran yang baru kusadari saat aku mulai dewasa. Namun nyatanya, bagi seorang anak, itu bukan beban, bukan pula kenangan menyedihkan. Berterima kasih kepada orang tua serta semua orang yang membuat tempat bertumbuhku begitu ramah, dan hari-hari terasa semenyenangkan itu.