Cong & Khan Company
the brand new day
Selasa, Maret 17, 2026
Ubur-Ubur Baik Hati
Selasa, Maret 10, 2026
Memories Bring Back You
Seseorang mengatakan hal buruk lagi tentangku, bukan orang asing, bukan orang lain—ya, dia yang tak bisa kusebut nama dan kedudukannya. Dari kalimat yang dirangkainya, ia sampaikan bahwa aku sangat buruk sampai-sampai bapak tak menginginkan menghabiskan sisa hidupnya bersamaku.
Pertama, aku menjadi semakin yakin, betapa kurang ajarnya dia. Berani menyampaikan hal-hal semacam itu padaku, anak bapak. Apalagi dengan kedudukannya, tak seharusnya ia mengatakan hal-hal semacam itu.
Kedua, aku menjadi sanksi atas kenanganku tentang bapak. Apakah benar bapak menilaiku seperti dia menilaiku? Bagaimana bila iya? Namun, bila benar, mengapa kenanganku tentang bapak sama sekali tak menunjukkan tentang itu?
Ketiga, aku memilih untuk percaya pada ingatanku, pada kenangan yang aku saksikan dan rasakan sendiri. Lalu, hari ini aku membuka lagi blog, membaca tulisan-tulisan terbaruku yang beberapa bahkan masih bercerita tentang bapak—yang membuatku semakin yakin pada keputusanku sendiri.
:)
Senin, Januari 19, 2026
Tidak Jadi Menyesal
Kadang-kadang aku menyesal telah menyesali sesuatu.
Kemarin aku sempat menyesal mengapa aku tidak mengambil kamar yang lebih mahal, sebab kamar hotel yang kupilih ternyata tidak sesuai ekspektasi. Suram. Menu sarapan sangat terbatas. Hm.. Rasa tidak nyaman itu sempat membuatku berpikir, seandainya tadi aku memilih yang lain.
Namun aku pikir lagi, bukankah setiap keputusanku sudah kupikirkan matang-matang? Kamar itu kupilih karena informasi spesifikasi yang tersedia, telah sesuai dengan kebutuhan juga anggaranku. Foto dan kenyataan yang kurang sesuai nuansanya adalah di luar kuasaku. Maka seharusnya aku tidak menyesal, bukan? Hanya butuh menggali informasi lebih banyak dan mengalokasikan anggaran lebih di kemudian hari bila butuh tempat singgah yang sesuai standar kenyamananku.
Sekarang aku ingin ketawa, sebab ternyata ekspektasiku itu kudasarkan pula pada pengalaman yang kukira baru kemarin di hotel yang sama, namun ternyata sudah dua belas tahun silam. Hahahaha. Ya, ingatan saat aku masih seorang karyawan baru yang sangat exciting menerima fasilitas negara -- yang lebih nyaman, jauh lebih nyaman, dari tempat tinggalku saat itu (sepetak kamar kos).
Saat aku tidak berpartisipasi di suatu kegiatan, agak kepikiran juga, mengapa aku lebih memilih stay at home saat hujan, kan jadi nggak punya kenangan. Tapi lagi-lagi aku kembali ke latar belakang keputusan tersebut. Aku sedang menepi dari keramaian karena sunyi membuat energiku pulih. Juga sedang memimalisir risiko masuk angin dan macam-macam penyakit yang bisa terpicu oleh dingin, khususnya pada anakku. Dan begitulah akhirnya, kami menghabiskan sisa malam tanpa kehidupan sosial yang ramai.
Benar, tidak salah.
Keputusan -- selama tidak melanggar syariat (dih, tinggi banget bahasanya), aku pikir bukanlah keputusan yang salah. Hanya saja, setiap keputusan pasti ada konsekuensi. Ketika rasa tidak nyaman menjadi salah satu konsekuensinya, disitu aku sering merasa "wah, aku salah ambil keputusan, nih!". Padahal tidak semua ketidaknyamanan adalah tanda kesalahan.
Aku rasional
Aku bertanggungjawab
Dan aku berlajar...
Barangkali yang perlu kupelajari adalah berhenti terlalu cepat menghakimi diri sendiri. Membedakan antara salah memilih dan tidak menyukai hasil adalah kerja batin yang tidak selalu mudah, tetapi penting. Karena di sanalah aku belajar berdamai: menerima bahwa aku telah memilih dengan niat baik, di situasi terbaik yang kupahami saat itu.
Dan mungkin, itu sudah cukup.
Jumat, Januari 16, 2026
Cerita tentang Bapak
Eksekusi Tenang Sang Anak Bapak
Selasa, Desember 23, 2025
Ini Bukan Lagu Tulus, Tapi… Hati-Hati di Jalan
Di masa ini, adakah yang tidak memanfaatkan jalan raya? Rasanya hampir mustahil. Kita berangkat kerja lewat jalan raya, anak sekolah lewat jalan raya. Ambulans, truk sembako, ojol, bahkan bocil dengan sepeda listrik, semuanya bertemu di ruang yang sama : aspal.
Pembangunan infrastruktur jalan terus dilakukan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat panjang jalan aspal di Indonesia tahun 2024 mencapai 377.454 km, bertambah 18,39% dibanding tahun 2023 yang hanya sepanjang 318.822 km. BPS juga mencatat ada sebanyak 157.080.504 unit kendaraan bermotor (mobil, bus, truk, dan sepeda motor) yang lalu lalang di jalanan Indonesia di tahun 2023, di mana 24 juta kendaraan di antaranya merupakan kendaraan Jawa Timur. Jumlah yang sangat luar biasa. Jumlah kendaraan bermotor ini belum termasuk kendaraan listrik yang belakangan menjadi primadona. Teknologi hadir semakin memanjakan pengguna. Adanya GPS (Global Positioning System), dash cam, sensor parkir, dan kehadiran motor listrik membuat berkendara semakin hari terasa semakin mudah.
Masalahnya, jalan raya bukan cuma soal bisa menggerakkan kendaraan maju mundur cantik. Jalan raya adalah ruang bersama, penuh aturan, etika, dan risiko. Sementara itu, pengguna jalan – yang telah memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM) pun, tidak sedikit yang ugal-ugalan di jalan. Ugal-ugalannya kalem : tidak pakai helm saat jarak tempuh dekat, menerobos lalu lintas saat jalanan sepi, melawan arus sedikit, bonceng tiga biar seru. Tidak heran, data pada Pusiknas Polri menunjukkan 95% kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh kelalaian manusia, 5% lainnya disebabkan oleh kondisi kendaraan, jalan, dan alam (kabut, banjir, dll).
Dari mana kita bisa memahami aturan, etika, dan risiko lalu lintas? Sesungguhnya saya pribadi juga bertanya-tanya. Pendidikan berlalu lintas nyaris absen dari kurikulum formal. Sebagian pengetahuan rambu-rambu lalu lintas merupakan ilmu yang saya dapat saat sekolah dasar. Tidak ada kelas untuk menjadi pengguna jalan yang bertanggung jawab. Pengetahuan hanya diwariskan dari generasi ke generasi, yang sayangnya, tidak utuh dan belum tentu benar.
Andai saja literasi berlalu lintas diperlakukan seperti literasi membaca dan berhitung. Pendidikan keselamatan jalan raya bisa masuk ke kurikulum sekolah. Bukan sekedar teori, tetapi praktik mengenal rambu sejak dini, memahami hak pejalan kaki, empati di jalan, dan simulasi sederhana berkendara yang aman. Jika kurikulum terasa berat, ekstrakurikuler bisa jadi alternatif untuk mencetak pengguna jalan beradab.
Namun, meski kelak masuk kurikulum, sudah barang tentu saya tidak akan belain sekolah lagi. Bagi saya yang sudah terlanjur hobi belok kiri jalan terus, RESET dimulai dengan berhenti menormalisasi pelanggaran kecil, sabar di jalan, dan membaca doa sebelum berkendara – agar selamat sampai di tujuan.
Jumat, November 21, 2025
Orang yang Ditandai
Beberapa waktu lalu dibuat sebal oleh Bu E, yang kukira hendak konfirmasi, malah berkata dengan nada tinggi. Meski belakangan aku maklum, mungkin dia sedang moody karena tugas negara yang bejibun atau apalah, namun aku tetap menandainya.
Lalu aku mulai menandai seseteman yang, wah, sempat membuat pekerjaanku tertunda beberapa hari, pikiranku terkuras juga untuk mengerjakan hal yang seharusnya dia yang mikirin and ngerjain. eh, kok aku dikerjain, ya? Tamarin banget kan.
Last but not least, ada bapack-bapack juga gais. Yang kemarin bilang "(Sebut nama aku) gimana, disuruh bawa laptop tapi nggak tau laptop itu buat apa. Hh hh hh (ketawa nyebelin)". Dari intonasinya aku merasa dikecilkan gitu lhooo. Aku tak suka. Aku merasa aku tidak salah saat aku membawa barang yang diminta bos ku untuk membawakannya tanpa bertanya lebih lanjut. Toh yang diminta bawa barang kantor normal. Bukan barang yang gak sesuai tema such as : duren, jerapah.
Tidak yaaa... aku tidak jahat menandai orang-orang itu. Itu sebagai bentuk kewaspadaan saja agar saat berinteraksi dengan mereka aku senantiasa sadar dan berhati-hati. Patuh pada batasan-batasan yang kusepakati dengan diriku sendiri.
Selamat ya, aku!! You do great, Lady!!