Senin, Januari 19, 2026

Tidak Jadi Menyesal

Kadang-kadang aku menyesal telah menyesali sesuatu. 

Kemarin aku sempat menyesal mengapa aku tidak mengambil kamar yang lebih mahal, sebab kamar hotel yang kupilih ternyata tidak sesuai ekspektasi. Suram. Menu sarapan sangat terbatas. Hm.. Rasa tidak nyaman itu sempat membuatku berpikir, seandainya tadi aku memilih yang lain. 

Namun aku pikir lagi, bukankah setiap keputusanku sudah kupikirkan matang-matang?  Kamar itu kupilih karena informasi spesifikasi yang tersedia, telah sesuai dengan kebutuhan juga anggaranku.  Foto dan kenyataan yang kurang sesuai nuansanya adalah di luar kuasaku.  Maka seharusnya aku tidak menyesal, bukan? Hanya butuh menggali informasi lebih banyak dan mengalokasikan anggaran lebih di kemudian hari bila butuh tempat singgah yang sesuai standar kenyamananku.

Sekarang aku ingin ketawa, sebab ternyata ekspektasiku itu kudasarkan pula pada pengalaman yang kukira baru kemarin di hotel yang sama, namun ternyata sudah dua belas tahun silam. Hahahaha. Ya, ingatan saat aku masih seorang karyawan baru yang sangat exciting menerima fasilitas negara -- yang lebih nyaman, jauh lebih nyaman, dari tempat tinggalku saat itu (sepetak kamar kos).

Saat aku tidak berpartisipasi di suatu kegiatan, agak kepikiran juga, mengapa aku lebih memilih stay at home saat hujan, kan jadi nggak punya kenangan.  Tapi lagi-lagi aku kembali ke latar belakang keputusan tersebut.  Aku sedang menepi dari keramaian karena sunyi membuat energiku pulih.  Juga sedang memimalisir risiko masuk angin dan macam-macam penyakit yang bisa terpicu oleh dingin, khususnya pada anakku. Dan begitulah akhirnya, kami menghabiskan sisa malam tanpa kehidupan sosial yang ramai.

Benar, tidak salah. 
Keputusan -- selama tidak melanggar syariat (dih, tinggi banget bahasanya), aku pikir bukanlah keputusan yang salah.  Hanya saja, setiap keputusan pasti ada konsekuensi.  Ketika rasa tidak nyaman menjadi salah satu konsekuensinya, disitu aku sering merasa "wah, aku salah ambil keputusan, nih!". Padahal tidak semua ketidaknyamanan adalah tanda kesalahan.  

Aku rasional
Aku bertanggungjawab
Dan aku berlajar... 

Barangkali yang perlu kupelajari adalah berhenti terlalu cepat menghakimi diri sendiri. Membedakan antara salah memilih dan tidak menyukai hasil adalah kerja batin yang tidak selalu mudah, tetapi penting. Karena di sanalah aku belajar berdamai: menerima bahwa aku telah memilih dengan niat baik, di situasi terbaik yang kupahami saat itu.

Dan mungkin, itu sudah cukup.

Jumat, Januari 16, 2026

Cerita tentang Bapak

Pada suatu hari...
Aku mengalami perjalanan dengan jarak yang tipis antara hidup atau mati.

Malam itu, mungkin hampir dini hari, ayahku mengemudikan carry merah kesayangannya di tempat yang sama sekali tidak familiar. Kami hendak berkunjung ke rumah kerabat di luar kota. Tidak ada GPS, orang tuaku hanya mengandalkan perkiraan dan keyakinan. 

Di gelap malam, kami berbelok ke suatu jalan menurun... yang ternyata... sama sekali bukan jalan! Sedikit lagi di bawah sana adalah sungai Brantas. Sungai terpanjang di Jawa Timur.

"Tidak apa-apa... tidak apa-apa,"
Ayahku menggumam bagai merapal mantra yang tidak berhasil membuat lutut ibuku berhenti bergetar. Kami semua turun. Pamanku memandu ayah untuk perlahan membawa mobilnya merangkak naik.

Jalan sudah datar.
Aku masih mentertawakan lutut ibuku.
Bertahun-tahun kemudian, setelah berulang mendegar cerita itu – setidaknya setahun sekali saat mudik lebaran, aku baru sadar betapa dekatnya kami dengan maut yang kemungkinan akan menjadi berita viral di koran.

Lalu akupun mengerti, panjang pendeknya nyawa kadang bukan hanya soal takdir, tetapi juga tentang eksekusi yang tenang dari kendali emosi di saat-saat yang paling genting.

Eksekusi Tenang Sang Anak Bapak

Ada hal-hal yang tidak nyaman namun aku sangat bangga pada keputusan-keputusan kecil pengendalian diriku. Oh yeah.

Dimulai dari beberapa waktu lalu, saat aku cukup jengkel ketika kegiatanku membaca the holy one dikritisi, akan lebih benar jika aku membaca ayat-ayat tertentu untuk kepersembahkan sebagai bakti seorang anak pada orang tuanya yang telah tiada. What the h*ll ya... masyaallah... ingin sekali mengumpat. Padahal mudah saja seharusnya memberi apresiasi bahwa aku masih hobi mengaji. Aku melanjutkan membaca dengan emosi yang tercampur aduk. Kuputuskan berhenti. Kemudian diam-diam melanjutkan dengan tenang hingga tuntas sesuai target hari itu. Dan... aku bangga pada diriku sendiri. Selamat, ya!!!

Then... besok pagi-paginya saat aku jajan sarapan, sesungguhnya aku tergiur aneka macam jerohan goreng yang tampaknya enak. Lalu dengan penuh kesadaran aku memilih pepes tongkol. Kereeeeeeennnnn!!!!

Prestasi selanjutnya masih banyak niiihhh...

Lagi-lagi hatiku kemrungsung atas komentar orang. Tentang perjalananku. Tentang tempat singgah yang kupilih.
Namun, aku memutuskan untuk mengapresiasi keputusanku, menikmati setiap konsekuensinya.
Untuk itu... aku bangga.
Aku anak bapak. Forever. 
Kusadari, menjadi anak bapak itu ya mesti meneruskan warisan bapak. More than rapalan doa-doa... ini tentang melanjutkan ilmu ajaran bapak, yang mudah-mudahan menjadi amal jariyah baginya : tetap tenang dan kendalikan diri. 


Selasa, Desember 23, 2025

Ini Bukan Lagu Tulus, Tapi… Hati-Hati di Jalan

Di masa ini, adakah yang tidak memanfaatkan jalan raya? Rasanya hampir mustahil.  Kita berangkat kerja lewat jalan raya, anak sekolah lewat jalan raya.  Ambulans, truk sembako, ojol, bahkan bocil dengan sepeda listrik, semuanya bertemu di ruang yang sama : aspal.

Pembangunan infrastruktur jalan terus dilakukan.  Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat panjang jalan aspal di Indonesia tahun 2024 mencapai 377.454 km, bertambah 18,39% dibanding tahun 2023 yang hanya sepanjang 318.822 km.  BPS juga mencatat ada sebanyak 157.080.504 unit kendaraan bermotor (mobil, bus, truk, dan sepeda motor) yang lalu lalang di jalanan Indonesia di tahun 2023, di mana 24 juta kendaraan di antaranya merupakan kendaraan Jawa Timur.  Jumlah yang sangat luar biasa.  Jumlah kendaraan bermotor ini belum termasuk kendaraan listrik yang belakangan menjadi primadona.  Teknologi hadir semakin memanjakan pengguna. Adanya GPS (Global Positioning System), dash cam, sensor parkir, dan kehadiran motor listrik membuat berkendara semakin hari terasa semakin mudah.  

Masalahnya, jalan raya bukan cuma soal bisa menggerakkan kendaraan maju mundur cantik.  Jalan raya adalah ruang bersama, penuh aturan, etika, dan risiko. Sementara itu, pengguna jalan – yang telah memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM) pun, tidak sedikit yang ugal-ugalan di jalan.  Ugal-ugalannya kalem : tidak pakai helm saat jarak tempuh dekat, menerobos lalu lintas saat jalanan sepi, melawan arus sedikit, bonceng tiga biar seru. Tidak heran, data pada Pusiknas Polri menunjukkan 95% kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh kelalaian manusia, 5% lainnya disebabkan oleh kondisi kendaraan, jalan, dan alam (kabut, banjir, dll).

Dari mana kita bisa memahami aturan, etika, dan risiko lalu lintas?  Sesungguhnya saya pribadi juga bertanya-tanya.  Pendidikan berlalu lintas nyaris absen dari kurikulum formal.  Sebagian pengetahuan rambu-rambu lalu lintas merupakan ilmu yang saya dapat saat sekolah dasar.  Tidak ada kelas untuk menjadi pengguna jalan yang bertanggung jawab.  Pengetahuan hanya diwariskan dari generasi ke generasi, yang sayangnya, tidak utuh dan belum tentu benar.

Andai saja literasi berlalu lintas diperlakukan seperti literasi membaca dan berhitung.  Pendidikan keselamatan jalan raya bisa masuk ke kurikulum sekolah.  Bukan sekedar teori, tetapi praktik mengenal rambu sejak dini, memahami hak pejalan kaki, empati di jalan, dan simulasi sederhana berkendara yang aman.  Jika kurikulum terasa berat, ekstrakurikuler bisa jadi alternatif untuk mencetak pengguna jalan beradab.

Namun, meski kelak masuk kurikulum, sudah barang tentu saya tidak akan belain sekolah lagi.  Bagi saya yang sudah terlanjur hobi belok kiri jalan terus, RESET dimulai dengan berhenti menormalisasi pelanggaran kecil, sabar di jalan, dan membaca doa sebelum berkendara – agar selamat sampai di tujuan.


Jumat, November 21, 2025

Orang yang Ditandai

Beberapa waktu lalu dibuat sebal oleh Bu E, yang kukira hendak konfirmasi, malah berkata dengan nada tinggi.  Meski belakangan aku maklum, mungkin dia sedang moody karena tugas negara yang bejibun atau apalah, namun aku tetap menandainya.

Lalu aku mulai menandai seseteman yang, wah, sempat membuat pekerjaanku tertunda beberapa hari, pikiranku terkuras juga untuk mengerjakan hal yang seharusnya dia yang mikirin and ngerjain.  eh, kok aku dikerjain, ya? Tamarin banget kan.

Last but not least, ada bapack-bapack juga gais.  Yang kemarin bilang "(Sebut nama aku) gimana, disuruh bawa laptop tapi nggak tau laptop itu buat apa. Hh hh hh (ketawa nyebelin)".  Dari intonasinya aku merasa dikecilkan gitu lhooo.  Aku tak suka.  Aku merasa aku tidak salah saat aku membawa barang yang diminta bos ku untuk membawakannya tanpa bertanya lebih lanjut.  Toh yang diminta bawa barang kantor normal.  Bukan barang yang gak sesuai tema such as : duren, jerapah.

Tidak yaaa... aku tidak jahat menandai orang-orang itu.  Itu sebagai bentuk kewaspadaan saja agar saat berinteraksi dengan mereka aku senantiasa sadar dan berhati-hati.  Patuh pada batasan-batasan yang kusepakati dengan diriku sendiri.

Selamat ya, aku!! You do great, Lady!!

Rabu, November 05, 2025

Release

Aku mengalami sakit yang cukup serius beberapa waktu lalu, hingga terpaksa tidak masuk dinas selama dua hari, juga meninggalkan rutinitas ke pusat kebugaran selama sebulan.  Duh! aku mencoba berlatih sendiri di rumah, angkat beban, work out, namun memang lebih afdol bila aku pergi ke tempat gym dan berlatih bersama personal trainer.  Insya allah besok deh.

Dua hari berdiam di rumah ternyata, baru kusadari belakangan, membuatku cukup tertekan ya.  Semacam dekat dengan sumber kecemasan tanpa jeda.  Wah, jadinya setelah itu aku melalui hari-hari dengan penuh cemas.  Belum lagi tim kerja baru yang menurutku masih belum berjalan di jalur yang sesuai.  Masih belok kanan belok kiri, tidak efisien, dan sempat membuat agenda yang sudah kurencanakan berantakan.  Itu menjadi beban pikiran tersendiri bagiku.  

Untungnya Tuhan masih ijinkan aku bertemu dengan mereka, kawan-kawan baikku.  Dalam suatu sesi makan siang yang penuh cerita, setelahnya beban hidupku -- seperti biasa, sebagian hilang.  Hatiku plong sedikit.  Ada beban yang terangkat pergi.

Nasehat temanku, fokuslah pada diriku sendiri.  Ah, dan aku berusaha melakukannya.  Tidak terlalu mengurusi pekerjaan orang lain meski rekan satu tim bila pekerjaanku sendiri belum selesai.  Dan... senangnya ketika dua hari ini aku berhasil menyelesaikan target kerjaku dengan cukup baik.  Besok akan ku kerjakan lagi target yang satu.  Sambil berharap mudah-mudahan besok semesta mendukungku untuk berangkat latihan beban di pusat kebugaran lagi.  Semoga.

Rabu, September 24, 2025

Prides of The Week

Ada dua hal membanggakan minggu lalu: pertama, tentang servis mesin cuci; dan kedua tentang parkir mobil.  Bangga karena atas ijin Allah, emak-emak ini mampu membuat kontribusi yang gemilang.  Hahahahaha.

Tentang servis mesin cuci

Alkisah, mesin cuciku kembali bermasalah.  Kali ini di tetiba mati.  Kupikir mungkin ada jaringan listrik yang terganggu, namun aku juga tidak bisa memastikan karena aku tidak punya keahlian, maka aku panggil teknisi yang kukenal untuk membantu.  Sayang seribu sayang, dia tidak berhasil mendiagnosa masalah, menurutnya mesin cuciku baik-baik saja. Ah.

Aku mulai menyelidikan lebih dalam, mencari referensi sebagai pembanding hingga aku menyimpulkan bahwa modul mesin cuciku ada gangguan.  Kuihat di toko oren harganya lumayan, hampir 400 ribu untuk modul yang bukan original.  Hampir saja kucheck out, namun urung ketika ada reviu yang bilang bahwa modul di toko ini bisa membuat mesin bekerja namun sedikit berbeda dengan versi aslinya, disarankan menghubungi service center untuk hasil yang lebih optimal. 

Sekitar tiga hari setelah menghubungi service center official, teknisi datang.  Dalam laporan aku sudah menyampaikan dugaan kerusakan, oleh karenanya teknisi sudah siap dengan modul barunya.  Dan ketika dilakukan pemeriksaan, bere tuh modul yang bermasalah- wah!! merasa keren sangat diriku ini.  Emak-emak yang peka pada mesin.  Hihihi.  Dan kekerenanku ini dibayar sepadan : ternyata klaim gransi masih berlaku sehingga aku mendapat penggantian modul secara gratis!!!  Alhamdulillaaahh...  Oh iya, teknisi menyampaikan bahwa Polytron tidak menjual modul secara bebas, sehingga dipasaran mustahil akan ditemukan modul original.  Wah, beruntung sekali diriku.  Dengan data yang akurat bisa mendapat pengangan yang tepat, gratis pula.

Tentang Parkir Mobil


Adakah sesuatu yang istimewa dari gambar tersebut? Biasa aja? ah iya memang itu biasa saja, hanya mobil yang terparkir sempurna, lurus tidak keluar garis.  Namun bagiku itu sangat istimewa karena ... akulah yang ada di balik kemudi.  Hahahaha.  Setelah sudah punya surat ijin mengemudi mobil, aku masih belum punya cukup nyali untuk turun ke jalan saat  kondiri ramai.  Maka di hari libur yang tenang, aku turun ke jalan.  Selamat yaa pada diriku sendiri.  Semoga selalu dalam lindungan Allah.  Amiinnn