Cong & Khan Company
the brand new day
Sabtu, April 25, 2026
Selamat Hari Kartini
Senin, April 13, 2026
Home Visit
The best part of lebaran tahun ini adalah... alhamdulillahhhh... kesampaian berkunjung ke teman-temanku di kota pisang!! ini adalah cita-cita dua tahun belakangan, sih... dan yang paling menyenangkan bahwa beloved bersedia mengantarku ke setiap pintu yang kukunjungi.
- Rumah Retno
Dia adalah salah seorang yang penting di sejarah masa lalu. Pernah jualan barang bertiga, dan she always be the best marketer ever. Kalau jualan selalu laris manis gitu deh. Bahkan sampai sekarang sepertinya masih begitu. Senang akhirnya dia bisa mewujudkan rumah impiannya. Rumah yang imut, cantik, estetik. - Rumah Kak Vita
Orang cantik yang paling baik yang kukenal. Beberapa kali sambang rumah bondowoso jadi... kayak ada utang banget harus menjejakkan kaki di rumahnya. Alhamdulillah, sudah terealisasi. Senang melihat vita-vita sachet sudah tumbuh gede, senang dengan kehangatan keluarga mereka. Bertemu dengannya menghangatkan hatiku - Rumah Bu Nora
Masih seperti rumah yang dulu, dan beliau alhamdulillah kelihatan sehat dan siap mantu. mendapat sudut pandang ibu yang baik dari beliau, memberi jalan tapi tetep menyerahkan keputusan pada yang akan menjalankan hidup. - Rumah Kak Desya
Best home lah ini yaaaa... di lahan yang imut tapi bisa punya kolam renang!! Meski nggak bisa lihat kolamnya cuz itu berisiko membuat anakku tantrum nggak bisa diajak pulang. Ini seperti rumah yang biasanya cuma dilihat di konten-konten influencer. Wkwkwk. Dan senang kami masih bisa bercerita apapun seperti dulu, tanpa canggung... meski sudah lama nggak ketemu. - Rumah Dibo
Rumah terakhir yang kami singgahi. Salah satu teman kerja terlama juga, dan darinya aku banyak belajar tentang self love: treat ourself sebaik-baiknya, dari milih yang dimakan, yang dipakai, bahkan keistiqomahannya berolahraga... - Rumah Ria
Tidak bertemu tapiii dapat oleh-oleh segambreng. Terharu akutuuuu... Senang dengan usahanya yang menggurita: parcel, f&b, skincare... Padahal udah bisa banget dia santuy-santuy menikmati hidup tanpa kerja keras (pov aku yang sok tau)
Selasa, Maret 17, 2026
Ubur-Ubur Baik Hati
Selasa, Maret 10, 2026
Memories Bring Back You
Seseorang mengatakan hal buruk lagi tentangku, bukan orang asing, bukan orang lain—ya, dia yang tak bisa kusebut nama dan kedudukannya. Dari kalimat yang dirangkainya, ia sampaikan bahwa aku sangat buruk sampai-sampai bapak tak menginginkan menghabiskan sisa hidupnya bersamaku.
Pertama, aku menjadi semakin yakin, betapa kurang ajarnya dia. Berani menyampaikan hal-hal semacam itu padaku, anak bapak. Apalagi dengan kedudukannya, tak seharusnya ia mengatakan hal-hal semacam itu.
Kedua, aku menjadi sanksi atas kenanganku tentang bapak. Apakah benar bapak menilaiku seperti dia menilaiku? Bagaimana bila iya? Namun, bila benar, mengapa kenanganku tentang bapak sama sekali tak menunjukkan tentang itu?
Ketiga, aku memilih untuk percaya pada ingatanku, pada kenangan yang aku saksikan dan rasakan sendiri. Lalu, hari ini aku membuka lagi blog, membaca tulisan-tulisan terbaruku yang beberapa bahkan masih bercerita tentang bapak—yang membuatku semakin yakin pada keputusanku sendiri.
:)
Senin, Januari 19, 2026
Tidak Jadi Menyesal
Kadang-kadang aku menyesal telah menyesali sesuatu.
Kemarin aku sempat menyesal mengapa aku tidak mengambil kamar yang lebih mahal, sebab kamar hotel yang kupilih ternyata tidak sesuai ekspektasi. Suram. Menu sarapan sangat terbatas. Hm.. Rasa tidak nyaman itu sempat membuatku berpikir, seandainya tadi aku memilih yang lain.
Namun aku pikir lagi, bukankah setiap keputusanku sudah kupikirkan matang-matang? Kamar itu kupilih karena informasi spesifikasi yang tersedia, telah sesuai dengan kebutuhan juga anggaranku. Foto dan kenyataan yang kurang sesuai nuansanya adalah di luar kuasaku. Maka seharusnya aku tidak menyesal, bukan? Hanya butuh menggali informasi lebih banyak dan mengalokasikan anggaran lebih di kemudian hari bila butuh tempat singgah yang sesuai standar kenyamananku.
Sekarang aku ingin ketawa, sebab ternyata ekspektasiku itu kudasarkan pula pada pengalaman yang kukira baru kemarin di hotel yang sama, namun ternyata sudah dua belas tahun silam. Hahahaha. Ya, ingatan saat aku masih seorang karyawan baru yang sangat exciting menerima fasilitas negara -- yang lebih nyaman, jauh lebih nyaman, dari tempat tinggalku saat itu (sepetak kamar kos).
Saat aku tidak berpartisipasi di suatu kegiatan, agak kepikiran juga, mengapa aku lebih memilih stay at home saat hujan, kan jadi nggak punya kenangan. Tapi lagi-lagi aku kembali ke latar belakang keputusan tersebut. Aku sedang menepi dari keramaian karena sunyi membuat energiku pulih. Juga sedang memimalisir risiko masuk angin dan macam-macam penyakit yang bisa terpicu oleh dingin, khususnya pada anakku. Dan begitulah akhirnya, kami menghabiskan sisa malam tanpa kehidupan sosial yang ramai.
Benar, tidak salah.
Keputusan -- selama tidak melanggar syariat (dih, tinggi banget bahasanya), aku pikir bukanlah keputusan yang salah. Hanya saja, setiap keputusan pasti ada konsekuensi. Ketika rasa tidak nyaman menjadi salah satu konsekuensinya, disitu aku sering merasa "wah, aku salah ambil keputusan, nih!". Padahal tidak semua ketidaknyamanan adalah tanda kesalahan.
Aku rasional
Aku bertanggungjawab
Dan aku berlajar...
Barangkali yang perlu kupelajari adalah berhenti terlalu cepat menghakimi diri sendiri. Membedakan antara salah memilih dan tidak menyukai hasil adalah kerja batin yang tidak selalu mudah, tetapi penting. Karena di sanalah aku belajar berdamai: menerima bahwa aku telah memilih dengan niat baik, di situasi terbaik yang kupahami saat itu.
Dan mungkin, itu sudah cukup.