Selasa, September 08, 2026

Facial

Beauty is pain, katanya. Aku sempat fokus pada pain-nya beberapa waktu ini. Ekstraksi komedo sangatlah sakit, peeling juga pedih, mau dilaser harus pakai anestesi dulu. Tiga tahun belakangan aku menjalani perawatan wajahku secara rutin untuk mengatasi jerawat-jerawatku dengan persiapan mental: SIAP MENDERITA! Hahaha. 

Lalu kemudian, dengan segala kejadian dar der dor di hidupku belakangan, kok aku pingin banget duduk sebentar di klinik skin care itu ya. Aku datang dengan niat me time, bukan berobat. Ya, ekstraksi komedo masih terasa sakit. Tapi ternyata senang dipijat dengan halus, ternyata menyenangkan mencium aroma wangi tea tree di wajah, ternyata menyenangkan menyentuh wajah yang halus, ternyata menyenangkan saat diberi tahu nggak ada komedo di pipiku, tinggal bekas jerawatnya aja.

Okhay, ternyata berproses menjadi cantik itu... menyenangkan.

Rumahku Dulu

Tempat tinggalku, sampai aku awal sekolah dasar, adalah sepetak rumah semi permanen. Lantainya semen, separuh dindingnya anyaman bambu. Kamar mandinya bilik kecil dengan tirai kain, bukan pintu plastik, seng, apalagi kayu. Jambannya juga terhubung langsung dengan selokan terdekat, tanpa perantara septic tank. Rumah tetangga berdempet, hanya dibatasi lorong sempit yang bila orang dewasa berpapasan harus memiringkan badan. Tak ada halaman.

Di sana aku menghabiskan masa kecilku: bermain lumpur, mencetak tanah menjadi bentuk-bentuk lucu, menikmati banjir saat musim hujan, mencari harta karun di sungai, dan tetangga yang lebih senior sekolahnya tak jarang mengulurkan bantuan saat aku kesulitan mengerjakan PR dari sekolah, mereka juga mengajakku berburu batang tebu yang tercecer di tepi jalan. Seru!

Belum sejahtera, begitulah gambaran yang baru kusadari saat aku mulai dewasa. Namun nyatanya, bagi seorang anak, itu bukan beban, bukan pula kenangan menyedihkan. Berterima kasih kepada orang tua serta semua orang yang membuat tempat bertumbuhku begitu ramah, dan hari-hari terasa semenyenangkan itu.

Senin, Agustus 17, 2026

Being Mentally Healthy

Pencapaian besar di umur 40 tahunku ini ialah proses penerimaan terhadap diri sendiri. Bukannya tidak bangga pada diri di episod-episod sebelumnya, namun memang kemarin-kemarin tu sepertinya hanya bersedia menerima hal positif, sedangkan hal negatif (hal yang membuat diri enggak nyaman) cenderung aku abaikan.

Ketika berbuat 'baik' untuk orang lain mulai melelahkan, mungkin saja itu karena i just pretending to be nice. Bukan dalam rangka menipu orang ya.. Cuma kayak gak terima aja dengan hal-hal tak baik yg dirasakan. Misal nih aku kok merasa temanku annoying banget ya. Ih masak iya ke teman aku merasa gini. Lalu aku berusaha memaklum-maklumi temanku sambil memadam-madamkan api sebalku. Padahal gak papa dong aku mikir jelek tentang teman. Namanya juga aku manusia. Apalagi saat share ke teman lain eehh ternyata perasaanku valid, teman yang lain juga merasakan ketidaknyamanan atas sikap teman yang sama.

Lalu kebetulan, di saat Indonesia tengah merayakah kemerdekaan, aku mendapat serangan yang sungguh dar der dor. Sangat membuatku marah, tak habis pikir, sedih banget. But, alhamdulillah I could control my respons. Bagiku, merdeka adalah saat aku merasa aman. Bukan harus selalu di zona nyaman. Namun saat di zona nggak nyaman aku bisa membuat diriku merasa oke, aku baik-baik saja, aku akan bisa melaluinya.

Bunch of love buat my besties, one of my biggest support system, yang mengerti aku, memahami, menghargai keputusanku. Dukungan kalian membuatku tegak berdiri sampai hari ini. 

Jumat, Juli 31, 2026

Solo


"Oh? Jadi mbak yang jahat?! Ternyata ya!" Komentar teman sesaat setelah menamatkan sebuah cerpen di buku ini.

"Aku sudah baca bukunya. Aku suka banget cerita yang tentang bla bla tuh..." kata seorang teman baru yang kukenal di festival

Katanya, kalau mau bisa hidup dari royalti buku, minimal bisa jual 10.000 buku dalam setahun. Banyak banget ya! 

Jika royalti sebuah buku 8k (ini udah banyak sih), jual 7500 buku bisa cover biaya hidup setahun yang minimalis sebesar 60 juta. Pilihannya bisa nulis 75 buku dengan 100 penjualan per tahun. 

Nggak tahu ya apakah aku kelak bisa sampai di situ. Mari kita coba!!

Tapi yang paling penting, aku suka bukuku mendapat respon baik dari pembacanya. Makasih banyak yaaa siapapun kamu yang sudah baca. Dan yang belum, kalian bisa dapat buku aku di shopee maupun Google Play Book. Judulnya Mind Sanitizer by Rahmaline.

Cover bukunya aku kolaborasi dengan Jasa Desain Bagus. Best!!



Sweet 40

Super duper unpredictable lah umur 40 ini!
Welcome, ya!!

One of most keren moment is I am invited to present as a book writer in Festival Literasi di kotaku, right on my birthday. Surprisingly meski aku hanya kenal seorang disana, my Editor, tapi aku tidak merasa terasing. Aku mendapat sebuah buku sebagai hadiah, dan I buy another one: Montessori Child, buku yang sedang relate dengan mommy's problem.

Namun, ada hari lain saat aku nggak sendirian, ada orang-orang yang kukenal, aku merasa sendirian. Sendirian yang sepi banget sampe nangis. Huhu. Untungnya Allah sayang aku. Di kepalaku dibisikkanNya suatu kesadaran. Aku sebagai anak, istri, ibu, pekerja, penulis, dan lain-lain adalah peran-peran tambahan. Peran utamaku cuma 1: Hambanya Tuhan.

Hamba Tuhan ini pun mewek. Ketika berat dengan beban peran-peran kecil, kesadaran tentang peran utama ini membuat pikiran lebih tenang. Semacam, ah.. okey, ada Allah yang insya Allah bisa back up. Semoga aku selalu dekat dengan majikanku ya... ialah Allah. Amin.

Minggu, Juli 05, 2026

New Skills Unlocked

Halo July! This month I will be 40 yo insya allah. Today I officially still 39 yo. Alhamdulillah di umur ini aku udah ongoing unlock beberapa hal berguna untuk hidupku:
1. Nyetir
2. Nulis
3. Speaking
4. Hari ini insya allah aku les perdana berenang.

3 tahun ke depan (40, 41, 42) fokusnya mengasah skill itu agar lebih berkembang dan tajam. 

Bisa mengemudikan mobil lebih tenang, aman, jauh. Bisa menulis sesuatu dengan lebih rapi, tajam, dan dapat feelnya. Bisa cap cip cup lebih lancar. Dan khusus olahraga mudah-mudahan aku istiqomah menjaga raga ini agar tetep bugar sampai akhir hayat. Amin.

Ada satu lagi yang ingin aku unlock: tahsin.

Jumat, Juni 05, 2026

Birthday Gift

Tahun ini aku akan berusia 40 tahun, insya Allah. Aku sudah menyiapkan hadiah untuk diriku sendiri. Sebuah buku solo yang keren.

Sepuluh tahun lagi aku akan 50 tahun, insya Allah.
Di hari arafah yang lalu, aku berdoa semoga aku bisa ikut Haji Khusus. Niatku kujangkar dengan membuka tabungan valas USD 100.
Kelak saat aku 50 tahun, mudah-mudah USD 100 nya sudah jadi USD 36.000 minimal. Biar bisa Haji Khusus sekeluarga (my beloved son, husband, and I)

Bismillah