Ada hal-hal yang bagiku seperti piala. Ialah sepatu-sepatu mahalku.
Ada sepatu pertama, biru warnanya, menemani pejuangan-perjuanganku saat workvelling sendirian. Solnya sudah tipis, warnanya sudah pudar, bahkan almarhum adikku pernah membelikanku cat kanvas untuk membuatnya kembali bersinar. Sudah tua banget, kan! Adikku aja sudah berpulang lima tahun lalu! Tapi sepatu itu, masih kusimpan dalam boksnya meski sudah bertahun-tahun tak lagi kupakai.
Sepatu kedua, juga memorable. Ia saksi saat salah satu momen keren di hidupku: nonton Manchester United di tribun paling belakang di National Stadium Singapore. Wkwkwk. Sesuatu yang kelak harus kurevisi. Nonton di bangku paling depan biar aku bisa lihat wajah ganteng para pemainnya. Ya, dan seperti pendahulunya, sepatu ini sudah tidak layak pakai. Ia cantik, masih cantik, tapi sudah terlepas solnya. Aku masih mengupayakan akan menyatukan mereka kembali.
Aku beli lem khusus sepatu. Aku mencucinya. Aku akan memperbaikinya. Tapi aku pasti tak akan memakainya karena pasti tidak senyaman versi pabrik. Aku tahu itu.
Saat aku memandang sepatu itu tergantung-gantung di tali jemuran, aku baru sadar bahwa aku sedang membuka gerbang hoarding di hidupku. Oh tydaacckk!! Aku tak boleh melakukannya!!
Tamatlah sudah alkisah kami
Terima kasih dan jumpa lagi
Akhirnya kemarin, dengan kesadaran penuh, aku memutuskan berpisah dengan mereka.